Sebuah kekacauan berubah menjadi tragedy setelah seorang pemilik sebuah peternakan melepaskan hewan-hewan seperti harimau, beruang, dan monyet dari kandang ke masyarakat. Pemilik peternakan, Tery Thompson, kemudian bunuh diri.
Warga diperintahkan untuk tetap tinggal di dalam rumah dan sekolah pun ditutup untuk hari itu, sementara polisi mencari hewan-hewan yang dilepas tersebut. Tragisnya, 49 hewan ditembak mati termasuk 18 harimau Bengal dan 17 ekor singa. Sementara yang masih hidup hanya satu beruang grizzly, dua monyet, dan tiga macan tutul. Satu monyet ditemukan mati dan diasumsikan telah dimakan.
Polisi membela keputusan mereka untuk membunuh—bukannya menangkap sebagian besar hewan karena petugas tidak dilengkapi dengan senapan obat bius dan kalau itu sudah mendekati waktu malam.
Sherrif Matt Lutz mengatakan, “Jika insiden ini terjadi ketika hari masih terang, kemungkinan kami akan mampu berkeliling dan mengendalikan situasi. Namun masalah terbesar kami adalah malam hari. Saat itu kami hanya punya waktu 1 jam sebelum malam dating, dan kami tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan.
Tak lama kemudian, Jack Hanna (konservasionis) dating dan mencoba menyelamatkan beberapa hewan dengan menembakkan senapan obat penenang. Namun, obat penenang butuh waktu beberapa menit untuk bisa bekerja efektif. Satu harimau (masih) harus dibunuh setelah ditembakkan obat penenang, ketika dia bersikap agresif terhadap dokter hewan yang ada.
Terry Thompson memang punya sejarah panjang tentang ketidakstabilannya dan seringnya dia bersikap kejam pada hewan-hewan. Dia bahkan pernah mengancam akan mengusir hewan-hewannya tersebut karena mendapat kunjungan dari pihak yang menerima laporan bahwa hewan-hewan di peternakan tersebut diperlakukan dengan tidak adil dan kejam.
CNN telah mencatat sejarah panjang tentang penyiksaan dan hukum yang berkaitan dengan hewan. Sangat menyedihkan ketika tahu bahwa tidak ada yang bisa menindak tegas peternakan Terry atau menutup tempat tersebut sebelum tragedy tersebut berlangsung. Hewan-hewan tersebut tidak bersalah namun harus membayar dari apa yang telah dilakukan pemiliknya.
Terry Thompson seharusnya tidak diperbolehkan untuk memiliki hewan-hewan ini, khususnya setelah memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia tidak mampu menjaga mereka semua. Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini lagi. (Ecorazzi)
Showing posts with label econews. Show all posts
Showing posts with label econews. Show all posts
Friday, October 21, 2011
Siapa pesepakbola yang paling ramah lingkungan?
Muncul pertanyaan besar, “Adakah para pesepakbola yang menunjukkan minat besar, atau memperlihatkan dirinya terlibat dalam sebuah gerakan yang pro lingkungan?"
Jika diperhatikan beberapa klub ada yang sudaha melakukan kegiatan untuk lingkungan (seperti yang dilakukan Dartford FC dan Charleston Battery’s dengan sepeda bertenaga mesin margarita), namun tidak dengan masing-masing individu dari anggota tim. Selangkah lebih maju, Gary Neville, tahun lalu mengajukan rencana kepada dewan Bolton untuk mendirikan bangunan “earth shelter” ala rumah Teletubbies seluar 8.000 kaki persegi. Rumah ini dilengkapi dengan panel solar dan turbin angin, serta arenya dipisahkan seperti tetesan air yang membentuk kelopak bunga.
Neville mendapat izin untuk meneruskan rencananya itu. “Saya benar-benar memiliki keyakinan dalam hal ini,” katanya. “Emma, istri saya, punya beberapa kekhawatiran ketika saya bilang kalau saya ingin membangun sebuah rumah yang ramah lingkungan. Namun Emma setiap hari harus isi bensin mobil kami dan juga tagihan bulanan pemakaian energy di rumah kami. Saya memutuskan dalam lima tahun bisa menjadi seseorang yang punya pengaruh dalam usaha penghematan energi untuk lingkungan.”
“Ketika proyek ini selesai, masyarakat akan berkesempatan untuk melihatnya, dan berharap mereka semua akan menyukai serta terinspirasi sehingga dapat membawa perubahan dalam kehidupan mereka. Saya bukan tipe manusia pasif yang hanya akan diam ketika melihat suatu masalah. Jika saya merasa yakin tentang sesuatu, saya termotivasi untuk berkontribusi apapun yang saya bisa. Itulah yang banyak membantu karir saya dalam dunia persepakbolaan dan itu juga adalah nilai yang saya selalu terapkan dalam hidup.”
Sayangnya untuk Neville, ada kurang lebih 100 suara lokal yang menyatakan keberatannya tentang dampak dari lanskap bangunan. Pada pertemuan final komite di Bolton Town Hall, menurut laporan dari Daily Telegraph, “Neville menghadapi para demonstran yang memegang plakat, dan duduk di dekat Neville selama 90 menit waktu diskusi.” Akhirnya, dewan menolak usulan Neville.
Mantan rekan setim Neville, Ole Gunnar Solksjaer, juga punya rencana untuk membangun rumah eco-friendly. Dia membeli Moat Cottage di Nether Alderly, Chesire pada tahun 2007. Cottage tersebut diruntuhkan dan dibangun ulang dengan menjadi sebuah mansion dengan konsep ramah lingkungan. “Pembangunan mansion bergaya Skandinavia ini meliputi panel surya, pompa yang dapat menghangatkan kolam renang dengan system siram yang bertekanan rendah”, seperti dilansir Observer tahun 2010.
Selain itu juga ada Moritz Volz, yang menggunakan sepedanya sebagai alat transportasinya menuju tempat latihan di Fulham—walaupun alasannya tidak sepenuhnya berkaitan dengan lingkungan. “Saya tidak tahan dengan antrian dan terjebak macet. Dan ini tidak pernah terjadi dengan sepeda,” katanya. “Saya juga menggunakan produk organik bila memungkinkan, tidak menggunakan tas belanja sekali pakai, dan minum air keran,” tambahnya. (Guardian)
Jika diperhatikan beberapa klub ada yang sudaha melakukan kegiatan untuk lingkungan (seperti yang dilakukan Dartford FC dan Charleston Battery’s dengan sepeda bertenaga mesin margarita), namun tidak dengan masing-masing individu dari anggota tim. Selangkah lebih maju, Gary Neville, tahun lalu mengajukan rencana kepada dewan Bolton untuk mendirikan bangunan “earth shelter” ala rumah Teletubbies seluar 8.000 kaki persegi. Rumah ini dilengkapi dengan panel solar dan turbin angin, serta arenya dipisahkan seperti tetesan air yang membentuk kelopak bunga.
Neville mendapat izin untuk meneruskan rencananya itu. “Saya benar-benar memiliki keyakinan dalam hal ini,” katanya. “Emma, istri saya, punya beberapa kekhawatiran ketika saya bilang kalau saya ingin membangun sebuah rumah yang ramah lingkungan. Namun Emma setiap hari harus isi bensin mobil kami dan juga tagihan bulanan pemakaian energy di rumah kami. Saya memutuskan dalam lima tahun bisa menjadi seseorang yang punya pengaruh dalam usaha penghematan energi untuk lingkungan.”
“Ketika proyek ini selesai, masyarakat akan berkesempatan untuk melihatnya, dan berharap mereka semua akan menyukai serta terinspirasi sehingga dapat membawa perubahan dalam kehidupan mereka. Saya bukan tipe manusia pasif yang hanya akan diam ketika melihat suatu masalah. Jika saya merasa yakin tentang sesuatu, saya termotivasi untuk berkontribusi apapun yang saya bisa. Itulah yang banyak membantu karir saya dalam dunia persepakbolaan dan itu juga adalah nilai yang saya selalu terapkan dalam hidup.”
Sayangnya untuk Neville, ada kurang lebih 100 suara lokal yang menyatakan keberatannya tentang dampak dari lanskap bangunan. Pada pertemuan final komite di Bolton Town Hall, menurut laporan dari Daily Telegraph, “Neville menghadapi para demonstran yang memegang plakat, dan duduk di dekat Neville selama 90 menit waktu diskusi.” Akhirnya, dewan menolak usulan Neville.
Mantan rekan setim Neville, Ole Gunnar Solksjaer, juga punya rencana untuk membangun rumah eco-friendly. Dia membeli Moat Cottage di Nether Alderly, Chesire pada tahun 2007. Cottage tersebut diruntuhkan dan dibangun ulang dengan menjadi sebuah mansion dengan konsep ramah lingkungan. “Pembangunan mansion bergaya Skandinavia ini meliputi panel surya, pompa yang dapat menghangatkan kolam renang dengan system siram yang bertekanan rendah”, seperti dilansir Observer tahun 2010.
Selain itu juga ada Moritz Volz, yang menggunakan sepedanya sebagai alat transportasinya menuju tempat latihan di Fulham—walaupun alasannya tidak sepenuhnya berkaitan dengan lingkungan. “Saya tidak tahan dengan antrian dan terjebak macet. Dan ini tidak pernah terjadi dengan sepeda,” katanya. “Saya juga menggunakan produk organik bila memungkinkan, tidak menggunakan tas belanja sekali pakai, dan minum air keran,” tambahnya. (Guardian)
Sunday, October 16, 2011
Pemakaman di Florida Tawarkan Kremasi Ramah Lingkungan
Bulan ini, Aunderson-McQueen dari pemakaman di St. Petersburg, Florida, menjadi pemakaman pertama di dunia yang menawarkan bio-cremation, dengan tidak lagi menggunakan api—melainkan memanfaatkan reaksi kimia untuk melarutkan mayat.
Prosesnya melibatkan air bertekanan, potassium hydroxide dan panas listrik untuk menghasilkan sebuah reaksi kimia—reaksi yang serupa seperti apa yang terjadi ketika mayat dikubur.
Yang menemukan teknik ini adalah Sandy Sullivan, ahli biokimia kelahiran Scotlandia.
Dengan metode baru ini, tubuh diletakkan dalam mesin baca yang mirip seperti mesin cuci, yang bernama Resomator. Mayat tersebut kemudian direndam dalam bak yang berisi cairan kimia dan tetap dipecah oleh proses yang dikenal sebagai hidrolisis basa, menggunakan air pada suhu tinggi.
Solusinya adalah kandungan alkali, zat yang bisa ditemukan dalam barang-barang yang ada dalam keseharaian Anda, seperti kosmetik dan sabun cair. Prosesnya sendiri berlangsung antara 3-4 jam, sedikit lebih lama dari kremasi api.
Ramah lingkungan!
Menurut presiden pimpinan pemakaman tersebut, John McQueen, hasil dari proses ini hamper sama dengan proses kremasi dengan api—dimana yang tersisa adalah tulang dan abu, yang ditempatkan di dalam guci dan diberikan kepada keluarga. Larutan kimia yang digunakan selama proses kemudian dibuan ke saluran pembuangan.
Dilanjutkannya lagi, cairan yang dibuang sudah steril. Tidak ada lagi DNA dalam bentuk apapun karena proses yang dilakukan adalah memecah tubuh untuk asam amino dasar.
“Apa yang masuk ke dalam sistem air limbah kemungkinan lebih bersih dibandingkan dengan limbah yang dihasilkan dari rumah, rumah sakit, atau tempat lain,” kata McQueen lagi.
Steve Schaal, kepala Matthews Cremation, yaitu perusahaan yang mendistribusikan Resomator di Amerika, mengatakan bahwa ada penelitian yang menemukan fakta bahwa adanya perkembangan pemikiran tentang kremasi—terutama yang ramah lingkungan.
Energi yang diperlukan untuk menjalankan Resomator juga tergolong hemat, karena menggunakan api dan gas.
“Kami mengurangi jejak karbon sebanyak 75%, pengurangan besar dalam penggunaan energy. Kami melihat ini sebagai kesempatan yang fantastis—dimana kami dapat menyediakan cara pemakaman yang ramah lingkungan kepada konsumen,” kata Steve.
Harga untuk kremasi ini adalah sekitar $650 dibandingkan dengan cara lama yang berkisar sebanyak $500.
(Reuters)
Prosesnya melibatkan air bertekanan, potassium hydroxide dan panas listrik untuk menghasilkan sebuah reaksi kimia—reaksi yang serupa seperti apa yang terjadi ketika mayat dikubur.
Yang menemukan teknik ini adalah Sandy Sullivan, ahli biokimia kelahiran Scotlandia.
Dengan metode baru ini, tubuh diletakkan dalam mesin baca yang mirip seperti mesin cuci, yang bernama Resomator. Mayat tersebut kemudian direndam dalam bak yang berisi cairan kimia dan tetap dipecah oleh proses yang dikenal sebagai hidrolisis basa, menggunakan air pada suhu tinggi.
Solusinya adalah kandungan alkali, zat yang bisa ditemukan dalam barang-barang yang ada dalam keseharaian Anda, seperti kosmetik dan sabun cair. Prosesnya sendiri berlangsung antara 3-4 jam, sedikit lebih lama dari kremasi api.
Ramah lingkungan!
Menurut presiden pimpinan pemakaman tersebut, John McQueen, hasil dari proses ini hamper sama dengan proses kremasi dengan api—dimana yang tersisa adalah tulang dan abu, yang ditempatkan di dalam guci dan diberikan kepada keluarga. Larutan kimia yang digunakan selama proses kemudian dibuan ke saluran pembuangan.
Dilanjutkannya lagi, cairan yang dibuang sudah steril. Tidak ada lagi DNA dalam bentuk apapun karena proses yang dilakukan adalah memecah tubuh untuk asam amino dasar.
“Apa yang masuk ke dalam sistem air limbah kemungkinan lebih bersih dibandingkan dengan limbah yang dihasilkan dari rumah, rumah sakit, atau tempat lain,” kata McQueen lagi.
Steve Schaal, kepala Matthews Cremation, yaitu perusahaan yang mendistribusikan Resomator di Amerika, mengatakan bahwa ada penelitian yang menemukan fakta bahwa adanya perkembangan pemikiran tentang kremasi—terutama yang ramah lingkungan.
Energi yang diperlukan untuk menjalankan Resomator juga tergolong hemat, karena menggunakan api dan gas.
“Kami mengurangi jejak karbon sebanyak 75%, pengurangan besar dalam penggunaan energy. Kami melihat ini sebagai kesempatan yang fantastis—dimana kami dapat menyediakan cara pemakaman yang ramah lingkungan kepada konsumen,” kata Steve.
Harga untuk kremasi ini adalah sekitar $650 dibandingkan dengan cara lama yang berkisar sebanyak $500.
(Reuters)
Subscribe to:
Posts (Atom)